Semenjak pertama
kali mengimjakan kaki di Sekolah ini. Aku langsug merasakan ada magnet yang
menarik ku untuk tetap berada disani. Setelah 8 bulan berjalan aku
mengabdikan diri untuk sebuah janji ku pada Negeri, ada banyak hal yang aku
dapatkan disini, sebuah kekeluargaan yang amat sangat kental terasa. Semua yang telah aku alami membuat aku
tersadar bahwa tak selamanya darah itu lebih kental dari darah.
Dari awal aku
bertekad untuk memulai merubah semuanya dari cara pandang siswa aku terhadap
hidup. Kemudian mengajarkan mereka tenteang artinya sebuah kebersamaan, mungkin
ada cara aku yang kurang dimengerti, aku paham akan hal itu, karena untuk
memulai hal yang besar selalu punya tantangan yang besar pula. Dari awal tekad aku
tidak pernah pudar sedikitpun, meski banyak yang mencoba membuatku untuk
berhenti. Namun yang aku yakini adalah semua
akan membaik seiring berjalanny waktu.
Tidak bisa
dipungkiri bahwa ada banyak kekecewaan yang aku dapati dalam setiap langkah ku.
Penolakan secara sepihak oleh segelintir orang, kata-kata yang seolah apa yang
aku lakukan saat ini adalah sia-sia, yang paling menyakitkan itu ketika (12
April 2018) siswa yang aku perjuangkan dan aku banggakan selama ini mengabaikan
apa yang telah disepakati. Disana aku mulai merenungi dan kemudian tersadar
bahwa tugas aku sudah usai dalam mendidik mereka, yang ditandai dengan Berakhirnya
Ujian Nasional dan mereka mencoret semua lambang sekolah yang ada pada seragam
mereka. Dengan senyum bahagia aku antarkan mereka, meski ada air mata terluka
seraya berkata “tugas aku telah usai, dan mereka kini telah dewasa”
Teruntuk siswa-siswa
ku, apapun yang terjadi diakhir kebersaan kita. Harapan nya hanya satu RAIHLAH
APA YANG SELAMA INI KALIAN INGINKAN.
Untuk Kalian,,,
Yang merasa bahwa aku baik-baik saja
tanpa kalian
Kalian tau,,,???
Dibalik diriku yang kecewa
Ada segelintir doa yang aku titipkan sebelum
tidur
Agar kita bisa dipertemukan lagi walau
hanya sekedar menyapa
Dibalik setiap sajak sendu yang aku
tuliskan disini
Ada diriku yang selalu melawan perihnya
rasa disetiap kata
Yang menemani jari-jemari menari di atas
pena
Dibalik hinanya aku dihadapan kalian
Ada diriku yang tak pernah memandang
negatif sedikitpu kearah kalian
Dibalik caci maki yang kalian lontarkan
kepada ku
Ada diriku yang berdiri bermimpi bahwa
kalian mendukung ku
Dibelakang semua nasehat yang kalian tanyakan
padaku
Ada aku yang tak pernah bisa menasehati
diriku sendiri
Agar aku bisa berhenti peduli
Dibalik setiap goresan tinta yang aku
tulisi
Ada hal tentang kalian terselip pada
beberapa kalimat sendu
Dan, dibalik semua rinduku
Ada aku yang menangis meminta kita yang
dulu