Selasa, 26 Januari 2016
Foto Di Atas Api
Aroma kayu manis yang tak asing lagi begitu aku mulai menyibak kayu bakar ini ke tengah kobaran api yang menyala. tak begitu jauh dari titik api aa secangkir teh yang masih hangat, terlihat dari asap yang mengepul dari ujung gelasnya.
hhmm, dia disitu rupanya, mungkin sedang ke belakang mengambil kayu bakar
pandangan ku tertuju pada secarik kertas di samping gelas putih itu
manis sekali!
ternyata dia masih menyimpan foto liburan kami di sungai waktu itu.
aku kaget tiba-tiba terdengar hentakan kaki dari arah belakang, tak sengaja aku menyenggol kertas bergambar, hingga melayang ketitik teang yang hangat dan perlahan terbakar.
"Dong, Itu kah engkau?
katanya sambil melirik abu dari kertar bergambar yang tak sengaja aku senggol.
Hening.
"aku rindu kamu" bisiknya sambil memeluk erat pinggang ku.
"Akupun merindukan mu. Cinta,!"
Kata mereka aku kehilangan arah, Nakal, Liar
"Apakah aku kehilangan arah?"
Di mata mereka, mungkin aku hanyalah jiwa muda.
Yang tak gemar berdiam di kala malam.
Haus akan hiburan.
Hambur akan uang.
Ya, aku memang senang.
Bersembunyi di balik setir.
Menghabiskan malam.
Memandang jalan.
Menikmati kosmopolitan.
Menantang gemerlap ibukota.
Kata mereka, aku ini nakal.
Ya terang saja, mereka hanya mengintip keseharianku.
Yang hanya,
Gemar berdansa musik keras.
Gemar memabukkan diri.
Gemar menghisap putung rokok.
Gemar pulang di kala matahari terbit.
Kata mereka, aku ini liar.
Tapi memang, menjadi liar itu asyik dan menegangkan.
Merasa risih ketika harus bergegas pulang.
Padahal malam masih panjang.
Aku bukanlah liar.
Aku adalah pengembara.
Yang menolak rasa takut.
Namun diiringi ketidakstabilan dan penerimaan.
Mungkin,
Kadang aku membangkang.
Kadang aku melantang.
Kadang aku diam bertameng.
Kadang aku pandai merangkai bual.
Namun, dari semua rangkaian itu.
Kau, ayah dan ibu, kau seorang penetap.
Yang merangkul semua nelangsaku atas ranah kehidupan.
Nelangsaku selalu saja kutumpahkan padamu.
Aku sadar dan waspada.
Aku mengetahui.
Kau selalu berada mengawasiku.
Kau selalu mengingatkanku.
Kau selalu memberikan makna hidup kembali.
Kau selalu membuat aku kembali bersua dengan kebahagiaan.
Di saat aku tersedak kehidupan.
Maafkan aku telah berlaku demikian.
Maaf juga telah kecewakan.
Terima kasih atas penerimaan yang tulus.
Aku mencintai kalian hari ini,
Aku mencintai kalian kemudian.
Selalu.
Sabtu, 16 Januari 2016
Cinta itu nyata
mungkin langit itu jauh
tapi tak akan terasa berjarak jika engkau tersenyum menatap ku
langkah ini tertatih
dengan tawa mu semua berlalu begitu saja
jiwa ini rapuh
hanya engkau lah pelengkap raga ku
saat engkau menatap
aku tau itu cinta
meski hanya aku yang merasakannya
tak perlu aku gambarkan rasa itu
karena semua tau itu tak ada
cakrawala menerka
dengan semua tanya yang entah berujung kemana
yakinlah aku akan selalu ada
dengan segala yang aku punya
menanti saat itu tiba
saat dimana engkau akan merasakannya
batapa cinta ini nyata